Arsip untuk KEBIDANAN

Komunikasi Efektif


trackback
Kegiatan komunikasi sudah menjadi sebagian besar kegiatan kita sehari-hari, mulai antar teman/pribadi, kelompok, organisasi atau massa. Kalau lebih teliti lagi banyak kegagalan dari komunikasi yang kita lakukan. Bisa jadi bentuknya karena tujuan yang kita inginkan belum tercapai. Bukan tujuan komunikasi secara egois. Tetapi tujuan komunikasi yang lebih pada, tidak adanya saling kesepahaman, belum bertambahnya informasi, serta ada usaha perubahan tingkah laku pada orang atau teman kita. Yang terkadang tidak hanya diartikan persetujuan.
Sebetulnya, kesulitan berkomunikasi yang paling besar berada dalam diri kita sendiri. Kurang yakin, kurang percaya diri, memandang orang lain kurang, lebih mendominasi, apalagi tinggi hati adalah sesuatu yang harus di swicth dan melatih kebalikannya.


Description

Komunikasi Kegiatan komunikasi pada prinsipnya adalah aktivitas pertukaran ide atau gagasan. Secara sederhana, kegiatan komunikasi dipahami sebagai kegiatan penyampaian dan penerimaan pesan atau ide dari satu pihak ke pihak lain, dengan tujuan untuk mencapai kesamaan pandangan atas ide yang dipertukarkan tersebut.
Komunikasi suatu proses pertukaran informasi atau proses pemberian arti sesuatu antara dua orang atau lebih dan lingkungannya, dapat melalui symbol, tanda, atau perilaku yang umum, biasanya terjadi dua arah
Komunikasi pertukaran fakta atau gagasan, opini atau emosi antara dua orang atau lebih
Komunikasi dalam ilmu kebidanan merupakan metode utama dalam mengimplementasikan proses asuhan. Bidan perlu memahami dan mengaplikasikan konsep dan proses komunikasi untuk meningkatkan hubungan saling percaya dengan klien yang akan membantu perubahan perilaku klien ke arah yang positif. Komunikasi juga merupakan dasar interaksi antara bidan dengan tim kesehatan lain. Penggunaan komunikasi yang tepat saat bidan berinteraksi dengan tim kesehatan lain akan memengaruhi hasil pelayanan kesehatan yang dilakukan.
Dalam praktik kebidanan, pemberian asuhan kebidanan yang berkualitas sangat dibutuhkan. Kualitas kebidanan ditentukan dengan cara bidan membina hubungan, baik sesama rekan sejawat ataupun dengan orang yang diberi asuhan. Upaya meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan juga ditentukan oleh keterampilan bidan untuk berkomunikasi secara efektif dan melakukan konseling yang baik kepada klien. Karena melalui komunikasi yang efektif serta konseling yang berhasil, kelangsungan dan kesinambungan penggunaan jasa pelayanan bidan untuk kesehatan perempuan selama siklus kehidupan akan tercapai.
Buku ini menjelaskan mengenai berbagai aspek yang berkaitan dengan konseling kebidanan dan ditujukan kepada para bidan serta mahasiswa kebidanan yang sedang mempelajari konseling kebidanan. Keunggulan buku ini terletak pada bahasanya yang sederhana dan mudah dipelajari sehingga pembaca dapat lebih memahami isi materi yang ada. Materi dalam buku ini telah disesuaikan dengan kurikulum pendidikan kebidanan.
Elemen-elemen yang terdapat dalam komunikasi
 Komunikator : orang yang menyampaikan pesan. Semua peristiwa komunikasi akan melibatkan sumber sebagai pembuat atau pengirim informasi. Dalam komunikasi antar manusia, sumber bias terdiri atas satu orang, tetapi bias juga dalam bentuk kelompok.
 Pesan : ide atau informasi yang disampaikan. Pesan tersebut pada dasarnya adalah hasil pemikiran atau pendapat sumber yang ingin disampaikan kepada orang lain. Penyimpanan isi pesan bias berupa kata-kata, idea atau perasaan. Pesan akan menjadi efektif apabila yang dideskripsikan oleh si pengirim pesan jelas dan terorganisir secara positif dan aktif yang dapat berupa perilaku atau tindakan.
 Media : sarana komunikasi. Media yang dimaksud disini ialah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber kepada penerima.media yang dugunakan dalam penyampaian pesan sangatlah berfariasi, mulai dari yang bersifat tradisional yaitu melalui mulut, bunyi-bunyian (kentongan), secara tertulis (cetakan), sampai dengan menggunakan teknologi tinggi yaitu televise dan internet.
 Komunikan : audience, pihak yang menerima pesan. Penerima adalah pihak yang menjadi sarana pesan yang dikirim oleh sumber, dapat terdiri atas satu orang atau lebih, bentuk kelompok, organisasi atau Negara. Penerima pesan adalah element penting dalam proses komunikasi, karena dialah yang menjadi sasaran dari komunikasi.
 Umpan Balik : respon dari komunikan terhadap pesan yang diterimanya. Kegiatan komunikasi dikatan berhasil apabila seorang komunikan mampu memberikan suatu umpan balik yang berbentuk tanggapan atau respon. Umpan balik merupakan hasil atau akibat yang berbalik guna bagi rangsangan atau dorongan untuk bertindak lebih lanjut atau merupakan tanggapan langsung dari pengamatan sebagai hasil dari perlakuan individu terhadap individu lain.
 Akibat : impact adalah hasil dari suatu komunikasi, yakni terjadinya perubahan pada diri sasaran. Perubahan dapat ditemukan pada pengetahuan, sikap, ataupun perilaku.
 Lingkungan : merupakan factor-faktor tertentu yang dapat mempengaruhi jalannya komunikasi. Faktor ini dapat digolongkan atas empat macam, yakni lingkungan fisik, lingkungan social budaya, lingkungan psikologis, dan dimensi waktu

Dalam kehidupan nyata mungkin ada yang menyampaikan pesan/ ide, ada yang menerima atau mendengarkan pesan, ada pesan itu sendiri, ada media dan tentu ada respon berupa tanggapan terhadap pesan. Secara ideal, tujuan komunikasi bisa menghasilkan kesepakatan-kesepakatan bersama terhadap ide atau pesan yang disampaikan.

Fungsi Komunikasi
 Membangun Konsep Diri (Establishing Self-Concept)
 Eksistensi Diri (Self Existence)
 Kelangsungan Hidup (Live Continuity)
 Memperoleh Kebahagiaan (Obtaining Happiness)
 Terhindar dari Tekanan dan Ketegangan (Free from Pressure and Stress)
Persepsi : Inti Komunikasi
Kesan adalah nuansa rasa manusia kepada obyek tertentu; obyek itu bisa barang bisa orang. Kita terkesan, karena ada sesuatu yang menarik dari obyek tersebut. Kita bisa terkesan kepada orang karena bermacam-macam; bisa karena wajah cantiknya, tampan, berkumis; bisa karena kata-katanya, karena janjinya, dan sebagainya. Membuat kesan yang baik, berarti kita harus berbuat dan bersikap tertentu yang membuat agar orang lain tertarik.
Persepsi didefinisikan sebagai interpretasi bermakna atas sensasi sebagai representatif obyek eksternal. Proses menafsirkan informasi indrawi. Jika persepsi kita tidak akurat kita tidak munglkin bisa berkomunikasi secara efektif. Rudolp F.Verdeber, Communicate, 1978
Proses mencapai kesepakatan (Sharing of meaning), lazimnya berlangsung secara bertahap. Karena itu, lebih awal kita perlu memperhatikan 5 (lima) sasaran pokok dalam proses komunikasi, yaitu:
• Membuat pendengar mendengarkan apa yang kita katakan (atau melihat apa yang kita tunjukkan kepada mereka)
• Membuat pendengar memahami apa yang mereka dengar atau lihat
• Membuat pendengar menyetujui apa yang telah mereka dengar (atau tidak menyetujui apa yang kita katakan, tetapi dengan pemahaman yang benar)
• Membuat pendengar mengambil tindakan yang sesuai dengan maksud kita dan maksud kita bisa mereka terima
• Memperoleh umpan balik dari pendengar
Tujuan Kesulitan dalam komunikasi
Tentu tidaklah mudah untuk membuat sebuah komunikasi berjalan dengan menghasilkan kesepakatan secara utuh sesuai tujuannya. Karena, salah satu prinsip dalam berkomunikasi, yakni terdapatnya kesulitan-kesulitan pokok dalam mencapai tujuan. Berikut matrik tujuan dan kesulitan dalam proses komunikasi.
mendengar
- Orang sulit memusatkan perhatian baik pada kata yang tertulis maupun terucap untuk waktu yang lama
- Orang kurang memiliki perhatian pada apa yang bagi mereka tampak kurang penting

memahami
- Orang memiliki asumsi berdasarkan pengalaman masa lalunya
- Orang sering tidak memahami jenis bahasa yang dipakai pembicara
- Orang lebih mudah salah mengerti saat mereka mendengar tanpa melihat
- Orang sering sudah menarik kesimpulan padahal kita belum selesai bicara.
menyetujui
- Orang sering merasa curiga terhadap orang lain yang sedang sedang membujuk mereka
- Orang tidak suka jika dibuktikan bersalah
bertindak
- Tidak mudah bagi banyak orang untuk mengubah kebiasaan mereka
- Orang merasa takut akan akibat dari pengambilan tindakan yang keliru
- Banyak orang tidak suka mengambil keputusan
Umpan balik
- Beberapa orang sering dengan sengaja menyembunyikan reaksi dan apa yang sesungguhnya mereka pikirkan
- Penampilan dapat bersifat memperdaya -anggukan kepala, mungkin tidak selalu tanda setuju dan mengerti, karena bisa digunakan untuk menutupi ketidak tahuan atau keragu-raguan.
Kualitas Komunikasi Deskripsi
Jika menyimak matrik di atas, sebetulnya kesulitan itu biasa dialami dialami oleh penyampai ide maupun penerimanya. Persoalannya bagaimana kita mengatasi kesulitan itu. Komunikasi Efektif Joseph de Vito, pakar komunikasi menyebut ada 5 kualitas umum yang dipertimbangkan untuk efektifitas sebuah komunikasi. Kualitas ini antara lain:
Openess : Adanya keterbukaan
Supportiveness : Saling mendukung
Positiviness : Bersikap positif
Emphaty : Memahami perasaan orang lain
Equality : Kesetaraan
Namun demikian, yang paling mendasar dalam sebuah kegiatan komunikasi adalah adanya rasa saling percaya. Kalau sudah percaya, biasanya apapun yang dikatakan pastilah diterima! Satu hal lagi, efisiensi. Komunikasi yang efisien adalah komunikasi yang tidak membutuhkan upaya besar agar mencapai tujuannya.
Kualitas komunikator
Partisipasi merupakan modal dasar untuk menyelenggarakan komunikasi yang efektif. Karenanya dibutuhkan kemampuan komunikasi efektif. Kemampuan ini meliputi kemampuan untuk berbagi ide, mengkritik dari semua aspek, mendorong dan merangsang imajinasi, menolak buah pikiran yang kurang tepat, dan mengenal sejak dini solusi yang mungkin bisa diambil.
Menggunakan bahasa Jelas, Lugas, dan Tepat Kata-kata yang lazim, konkret, pemberian petunjuk, yang menyentuh perasaan penyimak. Hindari kata-kata bercita rasa buruk, kata-kata langsung
Kualitas komunikator efektif : Menilai Orang Tahu mana yang penting dan menghargai kontribusi orang lain
Mendengarkan secara Aktif : Berusaha keras memahami keinginan dan masalah orang lain
Bijaksana : Memberikan kritik secara halus. konstruktif dan hormat
Memberikan pujian : Menghargai orang lain dan kontribusi mereka di depan umum
Konsisten : Mengendalikan suasana riang; memperlakukan sama bagi semuanya tidak favorit
Mengakui kesalahan : Kemauan untuk mengakui kesalahan
Memiliki rasa humor : Mempertahankan posisi yang menyenangkan dan pendekatan yang enak
Memberi contoh yang baik : Melakukan apa yang diharapkan orang lain
Ketika berkomunikasi, kita pasti memiliki persepsi tertentu pada pendengar begitu pula sebaliknya. Kekeliruan yang sering terjadi dalam berkomunikasi adalah ketika seseorang menyampaikan informasi dengan ukurannya sendiri. Ini harus dihindarkan karena komunikasi senantiasa melibatkan orang lain.
Ahli komunikasi berpesan jika akan berhasil, maka rumusan kunci yang harus dipegang adalah “Know your audience!” – ketahuilah siapa yang Anda ajak bicara. ”Seorang komunikator yang dialogis harus mencoba mengenali dan memperkecil kecenderungannya terhadap manipulasi, keegoisan, dan obyektivasi orang lain”.Johannessen, R.L., Ethics in Human Communications, 1983
“Anda akan mampu menyusun pikiran anda dengan lebih mudah dan lebih efektif jika Anda mengingat-ngingat struktur pembicaraan : Apa yang akan dibicarakan, isi pembicaraan dan Apa yang telah anda bicarakan”.Larry King, Seni Berbicara, 2003

http://rumakom.wordpress.com/2007/08/07/komunikasi-efektif/
Taufik, M. 2010. Komunikasi Terapeutik dan Konseling dalam Praktik Kebidanan.Jakarta: Salemba Medika

Leave a comment »

Apakah Masturbasi Bisa Merusak Keperawanan ???


Sering kita mempertanyakan,apakah masturbasi bisa membuat kita kehilangan keperawanan? dan apakah bisa merusak hymen!!

Di bawah ini adalah gambaran tentang hymen (selaput dara).


Masturbasi bisa dilakukan baik oleh wanita maupun pria. Secara agama semuanya melarang bila hal itu dilakukan…..klo ga percaya tanya ahli agama z ok…kontroversi soal na… Secara kesehatan sebenarnya tidak bermasalah asal tidak menyebabkan gangguan psikologis.

Terus apa Masturbasi pada wanita bisa merusak hymen? jawabannya bisa ya bisa tidak. Karena jika tidak ‘memasukkan’ sesuatu pastinya tidak akan merusak hymen. Lalu jika hymen sampai robek atau rusak apakah dikatakan masih perawan? Sesuai defenisi yang dianut, seseorang dikatakan sudah tidak perawan jika Mrs.V yang bersangkutan sudah dipenetrasi oleh Mr.P. Jadi tidak tergantung robek atau tidaknya hymen.

Tanpa penetrasi sering seorang wanita bisa mengalami robekan hymen seperti akibat kecelakaan dan seorang yang sudah dipenetrasi ada juga yang tidak robek, bisa karena tebal dan elastisitas hymen ataupun kaliber Mr.P yang kekecilan.(wew kekecilan..sempit dong hahahah..sorry) Hymen yang robek sekarang bisa di reparasi (dijahit kembali=resewed) baik dengan tehnik operasi biasa maupun mempergunakan tehnik canggih. Boleh dikatakan operasinya tidak sulit. Sehingga jelas disini ukuran virgin bukanlah dari utuhnya hymen, melainkan berdasarkan adanya proses penetrasi Mr. P .

Secara umum masih banyak laki-laki yang mengangungkan utuhnya hymen dengan ditandai adanya ‘FIRST BLOOD’ pada ‘FIRST NIGHT’…oleh karena itu wahai kaum hawa jagalah keutuhan hymen anda. (Memang nggak adil…karena banyak laki2 yang tidak virgin tetapi sulit dilacak…)hahahaha sabar z ye..ckckckck !!!


http://www.navisha.wordpress.com

Leave a comment »

Reflek Pada Bayi


macam-macam reflek pada bayi

1. Reflek moro (reflek terkejut) ==> hilang pada usia 2-3 bulan

2. Tonic Neck refleks (reflek tonus leher) ==> hilang usia 3-4 bulan

3. graps refleks (reflek menggenggam) == > hilang pada usia 3 bulan, di ganti dengan menggenggam sengaja, seumur hidup

4. Staping Refleks (reflek berjalan/melangkah) ==> hilang pada minggu ke 3-4 (1 bulan)

5. Roating reflek (reflek menghisap) ==> di dahului dengan sucking reflek (reflek mencuri) biasanya hilang pada usia 4 bulan

6. Babinski Reflek

7. reflek menelan (seumur hidup)

Roating refleks graps refleks

Leave a comment »

Fisiologi Ibu Nifas


Pengertian

Masa nifas (peurperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra-hamil. Lama masa nifas ini yaitu 6-8 minggu. Masa nifas ini dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya placenta sampai dengan 6 mingggu (42 hari) setelah itu. Pelayanan pascapersalinan harus terselenggara pada masa itu untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayi, yang meliputi upaca pencegahan, deteksi dini dan pengobatan komplikasi dan penyakit yang mungkin terjadi, serta penyediaan pelayanan ASI, cara menjarangkan kehamilan, imunisasi dan nutrisi bagi ibu. Masa pascapersalinan adalah fase khusus dalam kehidupan ibu serta bayi. Bagi ibu yang mengalami persalinan untuk pertama kalinya, ibu menyadari adanya perubahan kehidupan yang sangat bermakna selama hidupnya. Keadaan ini ditandai dengan perubahan emosional, perubahan fisik secara dramastis, hubungan keluarga dan aturan serta penyesuaian terhadap aturan yang baru.

Nifas dibagi dalam 3 periode :

1. Peurpenium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.

2. Peurpenium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu

3. Remote peurperium yaituwaktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan atau tahunan.

Involusi alat-alat kandungan

1. Involusi rahim Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil(involusi) sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil. Setelah placenta lahir uterus merupakan alat yang keras, karena kontraksi dan retraksi otot-ototnya. Fundus uteri 3 jari dibawah pusat. Selama 2 hari berikutnya, besarnya tidak seberapa berkurang, tetapi sesudah 2 hari ini uterus mengecil dengan cepat, sehingga pada hari ke 10 tidak teraba lagi dari luar. Sesudah 6 minggu tercapai lagi ukurannya yang normal. Sesudah placenta lahir beratnya rahim 1000 gr. Seminggu kemudian 500 gr, 2 minggu postpartum 375 gr. Dan pada akhir pueperium 50 gr. Involusi terjadi karena masing-masing sel menjadi lebih kecil, karena citoplasmanya yang berlebihan dibuang. Involusi disebabkan oleh proses autolysis, pada mana zat protein dinding rahim terpecah, di absorbs dan kemudian di buang dengan air kencing.

2. Involusi tempat placenta Setelah persalinan, tempat placenta merupakan tempat dengan permukaan kasar, tidak rata dan kira-kira sebesar telapak tangan. Dengan cepat luka ini mengecil, pada akhir minggu ke 2 hanya sebesar 3-4 cm. pada akhir nifas 1-2 cm. penyembuhan luka bekas placenta khas sekali. Pada permulaan nifas bekas placenta mengandung banyak pembuluh darah besar yang tersumbatoleh thrombus. Biasanya luka yang demikian sembuh dengan menjadi parut.

3. Perubahan pembuluh darah rahim Dalam kehamilan, uterus mempunyai banyak pembuluh-pembuluh darah yang besar, tetapi karena setelah persalinan tidak diperlukan lagi peredaran darah yang banyak, maka arteri harus mengecil lagi dalam nifas. Orang yang menduga bahwa pembuluh-pembuluh yang besar tersumbat karena perubahan-perubahan pada dindingnya dan diganti oleh pembuluh-pembuluh yang lebih kecil.

4. Perubahan pada serviks dan vagina Beberapa hari setelah persalinan, ostium externum dapat dilaui oleh 2 jari,pinggir-pinggirnya tidak rata tetapi retak-retak karena robekan dalam persalinan setelah persalinan bentuk serviks agak menganga seperti corong berwarna merah kehitaman. Konsistensinya lunak. Kadang-kadang terdapat perlukaan-perlukaan kecil. Setelah bayi lahir, tangan masih bisa masuk rongga rahim. Setelah 2 jam dapat dilalui oleh 2-3 jari dan setelah 7 dapat dilalui oleh 1 jari. Pada serviks terbentuk sel-sel oto baru. Vagina yang sangat diregang pada waktu persalinan, lambat laun mencapai ukuran-ukurannya yang normal. Pada minggu ke 3 postpartum rugae mulai Nampak kembali.

5. Dinding perut dan peritoneum Setelah persalinan dinding perut longgar karena diregang begitu lama, tetapi biasanya pulih kembali dalam 6 minggu. Kadang-kadang pada wanita yang atenish terjadi diastasis dari otot-otot rectus abdominis sehingga sebagian dari dinding perut di garis tengah hanya terdiri dari peritoneum, fascia tipis dan kulit.

6. Saluran kencing Dinding kandung kencing memperlihatkan oedema dan hyperaemia. Kadang-kadang oedema dari trigonum, menimbulkan obstruksi dari uretra sehingga terjadi retintio urine. Kandung kencing dalam peurperium kurang sensitive dan kapasitasnya bertambah, sehingga kandung kencing penuh atau sesudah kencing masih tinggal urine resudal. Sisa urine ini dan trauma pada dinding kandung kencing waktu persalinan memudahkan terjadinya infeksi. Pengosongna kandung kencing mungkin dapat membantu terjadinya kontraksi terutama pada kasus yang disertai dengan peregangan berlebihan dari kandung kemih yang tidak dapat dikosongkan secara spontan.

7. Laktasi Masing-masing buah dada terdiri dari15-24 lobi yang terletak radiair dan terpisah satu sama lain oleh jaringan lemak. Tiap lobus terdiri dari lobuli yang terdiri pula dari acini. Acini ini menghasilkan air susu. Tiap lobules mempunyai saluran halus untuk mengalirkan air susu. Saluran halus ini bersatu menjadi satu saluran untuk tiap lobus. Saluran ini disebut ductuslactiferosus yang memusat menuju ke putting susu dimana masing-masing bermuara.

8. Rasa sakit atau after pains Disebabkan kontraksi rahim, biasanya berlangsung 2-4 hari pascapersalinan , perlu diberikan pengertian pada ibumengenai hal ini dan bila terlalu menggangu dapat diberikan obat antisakit dan antimules

9. Lochia Cairan secret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas

- Lochia ruba (cruenta) : berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban. Sel-sel desidua, verniks kaseosa, lanugo, dan mekoneum selama 2 hari pascapersalinan

- Lochia sanguinolenta : berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, hari ke 3-7 pascapersalinan - Lochia serosa : berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7-14 pascapersalinan

- Lochia alba : cairan putih, setelah 2 minggu

- Lochia purulenta : terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk - Lochiostasis : lochia tidak lancer keluarnya

Klinik nifas

Kadang-kadang ibu menggil setelah persalinan selesai, tetapi sekarang jarang kita lihat lagi, mungkin karena teknik aseptic yang lebih baik. Kita menganggap masa nifas terganggu kalau ada demam lebih dari 38oC pada dua hari berturut-turut pada sepuluh hari pertama postpartum, kecuali hari pertama dan suhu harus diambil sekurang-kurangnya 4x sehari. Demam ini biasanya disebabkan oleh infeksi nifas. Nadi yang cepat terdapat pada ibu yang nerveus, yang banyak kehilangan darah atau mengalami persalinan yang sulit His pengiring (royan) terutama terasa oleh multiparae, karena rahimnya berkontraksi dan berelaksasi, yang menimbulkan perasaan nyeri. His pengiring terutama terasa pada waktu menyusukan anaknya. Biasanya setelah 48 jam postpartum tidak seberapa mengganggu lagi. a. Lochia adalah cairan secret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas atau cairan yang berasal dari luka dalam rahim terutama luka placenta. - Lochia rubra (cruenta)  lochia yang berupa darah - Lochia sanguinolenta - Lochia serosa  merupakan darah encer - Lochia alba  cairan putih atau kekuning-kuningan - Lochia perulenta - Lochiostasis Maka sifat lochia berubah seperti secret luka berubah menurut tingkat penyembuhan luka. Pada dua hari pertama lochia berupa darah dan disebut lochia ruba, setelah 3-4 hari merupakan darah encer yang disebut lochia serosa, dan pada hari ke 10 menjadi cairan putih atau kekuning-kuningan yang disebut lochia alba. Warna ini disebabkan karena banyak leucocyt terdapat didalamnya. Lochia berbau amis dan lochia yang berbau busuk menandakan adanya infeksi.

Perawatan dalam nifas

Pengawasan kala IV yang sebetulnya jam pertama dari nifas telah diuraikan secara singkat meliputi - Pemeriksaan placenta, supaya tidak ada bagian-bagian placenta yang tertinggal. - Pengawasan tingginya fundus uteri - Pengawasan perdarahan dari vagina - Pengawasan konsistensi rahim - Pengawasan keadaan umum itu 1. Mobilitas Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur terlantang selama 8 jam pascapersalinan. Kemudian boleh miring ke kanan dank e kiri untuk mencegah terjadinya trombosistromboemboli 2. Diet Makanan harus bermutu, bergizi, dan cukup kalori. Sebaiknya makan makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan buah-buahan 3. Miksi Hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri secepatnya. Kadang-kadang wanita mengalami sulit kencing, karena fingter uretra ditekan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi m.spincter ani selama persalinan 4. Defekasi Buang air besar harus dilakuakan 3-4 hari pascapersalinan. Bila masih sulit buang air besar dan terjadi 5. Perawatan payudara 6. Laktasi

Adapun abnormal yang dapat menyertai kala nifas

1. Keadaan abnormal pada rahim

a. Subinvolusi uteri Segera setelah persalinan berat rahim sekitar 1000 gr dan selanjutnya mengalami masa proteolitik. Sehingga otot rahim menjadi kecil ke bentuknya semula. Pada beberapa keadaan terjadinya proses involusi rahim tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga proses pengecilannya terlambat. Penyebab terjadinya involunsi uteri adalah terjadi infeksi pada endometrium, terdapat sisa plasenta, dan selaputnya, terdapat bekuan darah, atau mioma uteri

b. Perdarahan kala nifas sekunder Perdarahan yang terjadi setelah 24 jam pertama. Kejadiannya tidak terlalu besar, apalagi dengan makin gencarnya penerimaan keluarga berencana. Penyebab utama terjadinya perdarahan kala nifas sekunder adalah terdapatnya sisa plasenta atau selaput ketuban. Gejala klinis perdarahan kala nifas sekunder dapat terjadi perdarahan berkepanjangan melampaui partum pengeluaran lokia normal, terjadi perdarahan yang cukup banyak, dan dapat disertai rasa sakit di daerah uterus.

c. Flegmasia alba dolens Merupakan salah satu bentuk infeksi peurperalis yang mengenai pembuluh darah vena femoralis

2. Keadaan abnormal pada payudara

Payudara telah dipersiapkan sejak mulai terlambat datang bulan sehingga pada waktunya dapat memberikan ASI dengan sempurna. Untuk dapat melancarkan pengekuaran ASI dilakukan persiapan sejak awal hamil dengan melakukan masase, menghilangkan kerak pada putting susu sehingga duktusnya tidak tersumbat.

Beberapa abnormal yang mungkin terjadi

a. Bendungan ASI

- Karena sumbatan pada saluran ASI

- Tidak dikosongkan seluruhnya

- Keluhan : mamae bengkak, keras, dan terasa panas sampai suhu badan meningkat

- Penanganan: pengosongan ASI dengan masase atau pompa, memberikan estradiol sementara menghentikan pembuatan ASI, dan pengobatan sinusitis sehingga keluhan berkurang.

b. Mastitis dan abses mamae Terjadi bendungan ASI merupakan permulaan dari kemungkinan infeksi mamae. Bakteri yang sering menyebabkan infeksi mame adalah stafilokokus aureus yang masuk melalui luka putting susu. Infeksi menimbulkan demam, nyeri local pada mame, dan terjadi perubahan warna kulit mame. Penderita dengan mastitis perlu mendapatkan pengobatan yang baik dengan antibiotika dan obat simptomatis

3. Flegmasia alba dolens

Merupakan salah satu bentuk infeksi peurperalis yang mengenai pembuluh darah vena femoralis. Vena femoralis yang terinfeksi dan disertai pembentukan thrombosis dapat menimbulkan gejala klinik sebagai berikut

- Terjadi pembengkakan pada tungkai

- Berwarna putih - Terasa sangat nyeri

- Tampak bendungan pembuluh darah

- Temperature badan dapat meningkat Infeksi vena femoralis jarang dijumpai dengan predisposisi pada penderita usia lanjuit, multiparitas, dan persalinan dengan tindakan operasi.

Infekai kala nifas Setelah persalinan terjadi beberapa perubahan penting diantaranya makin meningkatnya pembentukan urine untuk mengurangi hemodilus darah, terjadi penyerapan bebrapa bahan tertentu melalui pembuluh darah vena sehingga terjadi peningkatan suhu sekitar 0,5o C yang bukan merupakan keadaan yang patologis atau menyimpang pada hari pertama. Perlukaan karena persalinan merupakan tempat masuknya kuman ke dalam tubuh, sehingga menimbulkan infeksi pada kala nifas. Infeksi kala nifas adalah infeksi peradangan pada semua alat genetalia pada masa nifas oleh sebab apapun dengan ketentua meningkatnya suhu badan melebihi 38oC tanpa menghitung hari pertama dan berturut-turut selama 2 hari. Infeksi nifas seperti sepsis, masih merupakan penyebab utama kematian ibu. Demam merupakan satu gejala/tanda yang mudah dikenali. Pemberian antibiotika merupakan tindakan utama,disamping upaya dengan pencegahan dengan pemberian antibiotika dan upaya dengan persalinan yang bersih dan aman masih merupakan upaya utama.

Factor predisposisi infeksi kala nifas diantaranya :

 Persalinan berlangsung lama sampai terjadi persalinan terlantar

 Tindakan operasi persalinan

 Tertinggalnya placenta selaput ketuban dan bekuan darah

 Ketuban pecah dini atau pada pembukaan masih kecil melebihi 6 jam

 Keadaan yang dapat menurunkan keadaan umum, yaitu perdarahan antepartum dan postpartum, anemia pada saat kehamilan, malnutrisi, kelelahan, dan ibu hamil dengan penyakit infeksi Mekanisme terjadinya infeksi kala nifas

Terjadinya infeksi kala nifas adalah sebagai berikut:

 Manipulasi penolong : terlalu sering melakukan pemeriksaan dalam, alat yang dipakai kurang suci hama

 Infeksi yang didapat dirumah sakit (nosokomial)

 Hubungan seks menjelang persalinan

 Sudah terdapat infeksi intrapartum: persalinan lama terlantar, ketuban pecah lebih dari 6 jam, terdapat pusat infeksi dalam tubuh (fokal infeksi) Bentuk infeksi kala nifas berfariasi dan yang bersifat local sampai terjadi sepsis dan kematian peurperium.

Bentuk infeksi dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Bentuk infeksi local

- Infeksi pada luka episotomi

- Infeksi pada vagina

- Infeksi pada serviks yang luka

2. Bentuk infeksi general (menyebar)

- Parametritis

- Peritonitis

- Sepsikemi dan piema

3. Penyebaran infeksi kala nifas dapat melalui:

- Berkelanjutan

-perkontinuitatum

- Melalui pembuluh darah

- Melalui pembuluh limfa

- Penyebaran melalui bekas implantasi placenta Gambaran klinis infeksi kala nifas dalam bentuk

a. Inkesi local

- Pembengkakan luka episiotomy

- Terjadi pernanahan

- Perubahan warna local

- Pengeluaran lokia bercampur nanah

- Mobilitas terbatas-karena rasa nyeri

- Temperature badan dapat meningkat

b. Infeksi umum

- Tampak sakit dan lemah

- Temperature meningkat di atas 39oC

- Tekanan darah dapat menurun dan nadi meningkat

- Pernafasan dapat meningkat dan terasa sesak

- Kesadaran gelisah sampai menurun dan koma

- Terjadi gangguan involusi uterus

- Lokia : berbau dan bernanah serta kotor Dengan gambaran klinis tersebut bidan dapat menegakkan diagnosis infeksi kala nifas. Pada kasus dengan infeksi ringan. Bidan dapat memberikan pengobatan, sedangkan infeksi kala nifas yang berat sebaiknya bidan berkonsultasi atau merujuk penderita Persalinan normal yang ditolong dengan baik tidak terlalu banyak terjadi infeksi kala nifas.

Dalam upaya menurunkan infeksi kala nifas dapat dilakukan pencegahan sebagai berikut

1. Pencegahan pada waktu hamil

- Meningkatkan keadaan umum penderita

- Mengurangi factor predisposisi infeksi kala nifas

2. Saat persalinan

- Perlukaan dikurangi sebanyak mungkin

- Perlukaan yang trejadi dirawat sebaik-baiknya

- Mencegah terjadi perdarahan postpartum

- Kurang melakukan pemeriksaan dalam

- Hindari persalinan yang berlangsung lama

3. Kala nifas

- Lakukan mobilitas dini, sehingga darah-lokia keluar dengan lancer

- Perlukaan dibuat dengan baik

- Rawat gabung dengan isolasi untuk mengurangi infeksi nosokomial Pengobatan infeksi kala nifas Perlukaan jalan lahir sudah dapat dipastikan terjadi pada setiap persalinan yang akan menjadi jalan masuknya bakteri yang bersifat komensal dan menjadi infeksius. Pertolongan persalinan yang bersih tidak memrlukan pengobatan umum tetapi persalinan yang di duga akan dapat terjadi infeksi kala nifas memerlukan profilaksis antibiotika. Hubungan seksual pada periode pascapersalinan Kebutuhan informasi dan konseling tentang kehidupan seksual dan kontrasepsi merupakan suatu pernyataan yang banyak diajukan pada ,asa pascapersalinan. Ada kemungkinan besar bahwa sebagian besar ibu menghindari hubungan seksual selama terjadinya kehamilan sampai dengan persalinan. Kelelahan dan gangguan tidur adalah keluhan yang paling sering menyebabkan terjadinya penurunan libido. Kembalinya perilaku seksual sebelum kehamilan pada umumnya akan berjalan sangat lambat.

Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba, SpOG : Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk pendidikan Bidan. Jakarta, ECG, 1998

Prof. Dr. Rustam mochtar, MPH : Sinopsis Obstetri. Jakarta, EGC, 1998

Leave a comment »

Proses Persalinan


pengertian

Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukkup bulan atau hamper cukup bulan, disusul dengan pengeluaran placenta dan selaput janin dari tubuh ibu.
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain. Dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri)
Bentuk persalinan berdasarkan definisi adalah sebagai berikut:
a. Persalinan spontan
Bila persalninan seluruhnya berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri
b. Persalinan buatan
Bila proses persalinan dengan bantuan tenaga dari luar
c. Persalinan anjuran
Proses terjadinya persalinan
Bagaimana terjadinya persalinan belum diketahui dengan pasti, sehingga menimbulkan bebrapa teori yang berkaitan dengan mulai terjadinya kekuatan his
Perlu diketahui ada 2 hormon yang dominan saat hamil:
1. Estrogen
• Meningkatkan sensivitas otot rahim
• Memudahkan penerimaan ranngsangan dari luar seperti rangsangan oksitosin, rangsangan prostaglandin, rangsangan mekanis
2. Progesterone
• Menurunkan sensivitas otot rahim
• Menyulitkan penerimaan rangsangan dari luar seperti rangsangan oksitosin, rangsangan prostaglandin, rangsangan mekanis
• Menyebabkan otot rahim dan otot polos relaksasi
Estrogen dan progesteron terdapat dalam keseimbangan sehingga kehamilan dapat dipertahankan. Perubahan keseimbang estrogen dan progesterone menyebabkan oksitosin yang dikeluarkan hipofise parst posterior dapat menimbulkan kontraksi dalam bentuk Braxton hicks. Kontraksi Braxton hicks akan menjadi kekuatan dominan saat mulainya persalinan. Oleh karena itu makin tua hamil frekuensi kontraksi makin sering
Oksitosin diduga bekerja bersama atau melalui prostaglandin yang makin meningkat mulai dari umur kehamilan minggu ke 15. Disamping itu factor gizi ibu hamil dan keregangan otot rahim dapat memberikan pengaruh penting untuk dimulainya kontraksi rahim
Berdasarkan uraian tersebut dapat dikemukakan bebrapa teori yang menyebabkan kemungkinan proses persalinan:
1. Teori keregangan
• Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu
• Setelah melewati batas tersebut terjadi kontraksi sehingga persalinan dapat mulai
• Contohnya, pada hamil ganda sering terjadi kontraksi setelah keregangan tertentu, sehingga menimbulkan proses persalinan.
2. Teori penurunan progesteron
• Pada penuaan plasenta terjadi mulai umur hamil 28 minggu, dimana terjadi penimbunan jaringan ikat, pembuluh darah mengalami penyempitan dan buntu.
• Produksi progesterone mengalami penurunan, sehingga otot rahim lebih sensitive terhadap oksitosin.
• Akibatnya otot rahim mulai berkontraksi setelah tercapai tingkat penurunan progesteron tertentu
3. Teori oksitosin internal
• Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis parst posterior
• Perubahan keseimbangan estrogen dan progesterone dapat mengubah sensivitas otot rahim, sehingga sering terjadi kontraksi Braxton hicks
• Menurunnya konsentrasi progesterone akibat tuanya kehamilan maka oksitosin dapat meningkatkan aktifitas, sehingga persalinan dapat mulai.
4. Teori prostaglandin
• Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak umur hamil 15 minggu, yang di keluarkan oleh desidua
• Pemberian plostagandin saat hamil dapat menimbulkan kontrasi otot rahim sehingga hasil konsepsi dikeluarkan
• Prostaglanding dianggap dapat merupakan pemicu terjadinya persalinan
5. Teori hipotalamus-puitari dan glandula suprarenalis
• Teori ini menunjukkan pada kehamilan dengan anensefalus sering terjadi keterlambatan persalinan karena tidak terbentuk hipotalamus
• Grandula suprarenal merupakan pemicu terjadinya persalinan
Dengan penurunan hormone progesterone menjelang persalinan dapat terjadi kontraksi. Kontraksi otot rahim menyebabkan:
1. Turunnya kepala, masuk pintu atas panggul, terutama pada primigravida, minggu ke 36 dapat menimbulkan sesak dibagian bawah, diatas simfisi pubis dan inginsering kncing atau susah kencing karena kandung kemih tertekan kepala
2. Perut perih melebar karena fundus uteri turun.
3. Terjadi perasaan sakit didaerah pinggang karena kontraksi ringan otot rahim dan terletaknya pleksus frankenhauser yang terletak sekitar serviks
4. Terjadi perlunakan serviks karena terdapat kontraksi otot rahim
5. Terjadi pengeluaran lendir, dimana lendir penutup serviks dilepaskan
Tanda persalinan
Gejala persalinan sebagai berikut:
1. Kekuatan his makin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi yang semakin pendek
2. Dapat terjadi pengeluaran pembawa tanda
- Pengeluaran lendir
- Lendir bercampur darah
3. Dapat disertai ketuban pecah
4. Pada pemeriksaan dalam di jumpai perubahan serviks
- Perlunakan serviks
- Pelunakan serviks
- Terjadi pembukaan serviks
Factor-faktor penting dalam persalinan:
1. Power
- His (kontraksi otot rahim)
- Kontraksi otot dinding perut
- Kontraksi diafragma pelvis atau kekuatan mengejan
- Ketegangan dan kontraksi ligamentum rutundum
2. Pasanger
- Janin dan placenta
3. Passage
- Jalan lahir lunak dan jalan lahir tulang
Dalam persalinan masih terdapat subfaktor yang mempengaruhi jalannya persalinan sehingga dapat terjadi kemungkinan
a. Persalinan yang berlangsung dengan kekuatan sendiri yang disebut persalinan eutosia
b. Persalinan yang berlangsunng dan penyimpang dari kekuatan sendiri disebut persalinan distosia

Pembagian tahap persalinan
Diagnosis
- Diagnosis dan konfirmasi saat persalinan
Di curigai dan antisipasi adanya persalinan jika wanita tersebut menunjukkan tanda-tanda gejala sebagai berikut:
a. Nyeri abdomen yang bersifat intermiten setelah kehamilan 22 minggu
b. Nyeri disertai lendir darah
c. Adanya pengeluaran air dari vagina atau keluarnya air-air secara tiba-tiba
Pastikan keadaan inpartu jika:
a. Serviks terasa melunak  adanya pemendekan dan pendataran serviks secara progresisif selama persalinan
b. Dilatasi serviks  peningkatan diameter pembukaan serviks yang diukur dalam sentimeter
- Diagnosis tahap dan fase dalam persalinan
- Penilaian masuk dan turunnya kepada di rongga panggul
- Indentifikasi presentasi dan posisi janin

1. Kala I atau kala pembukaan
Dimulai dari his persalinan yang pertama sampai pembukaan cerviks menjadi lengkap. Pada permulaan his, kala pembukaan berlangsung tidak begitu kuat sehingga parturien masih dapat berjalan-jalan. Lamanya kala I untuk primigravida berlangsung 12 jam, sedangkan multigravida sekitar 8 jam.
Diagnosis KALA I
Ibu sudah dalam persalinan kala I jika pembukaan serviks kurang dari 4 cm dan kontraksi terjadi teratur minimal 2 kali dalam 10 menit selama 40 detik
Penanganan
- Bantulah ibu dalam persalinan jika ia tampak gelisah, ketakutan dan kesakitan
o Berilah dukungan dan yakinkan dirinya
o Berikan informasi mengenai proses dan kemajuan persalinan
o Dengarkan keluhan dan cobalah untuk lebih sensitive terhadap perasaannya
- Jika Ibu tersebut tampak kesakitan, dukungan/asuhan yang dapat diberikan
o Lakukan perubahan posisi
o Posisi sesuai dengan keinginan ibu, tetapi jika ibu ingin ditempat tidur sebaiknya dianjurkan untuk tidur miring kesebelah kiri
o Sarankan ia untuk berjalan
o Ajaklah orang yang menemaninya (suami atau ibunya) untuk memijat atau menggosok punggungnya atau membasuh mukanya diantara kontraksi
- Penolong tetap menjaga hak privasi ibudalam persalinan, antara lain menggunakan penutup atau tirai, tidak menghadirkan orang lain tanpa sepengetahuan atau izin pasien/ibu
- Menjelaskan kemajuan persalinan dan perubahan yang terjadi secara prosedur yang akan dilaksanakan dan hasil-hasil pemeriksaan.
- Membolehkan ibu untuk mandi dan membasuh sekitar kemaluannya setelah buang air kecil/besar
- Ibu bersalin biasanya merasa panas dan banyak keringat, atasi dengan cara
o Gunakan kipas angina tau AC dalam kamar
o Menggunakan kipas biasa
o Menganjurkan ibu untuk mandi sebelumnya
- Untuk memenuhi kebutuhan energy dan mencegah dehidrasi, berikan cukup minum
- Sarankan ibu untuk berkemih sesering mungkin
Fase-fase dalam kala I persalinan
a. Fase laten pada kala I persalinan
o Dimulain sejak awal berkontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks secara bertahap
o Berlangsung sehingga serviks membuka kurang dari 4 cm
o Pada umumnya fase laten berlangsung hampi atau hingga 8 jam
o Kontraksi mulai teratur namun lamanya masih diantara 20-30 detik
b. Fase aktif pada kala I persalinan
o Frekuensi dan lam kontraksi uterus akan meningkat secara bertahap
o Dari pembukaan 4 cm hingga mencapai pembukaan lengkap atau 10 cm akan terjadi dengan kecepatan rata-rata 1 cm per jam atau lebih dari 1 cm hingga 2 cm
o Terjadi penurunan bagian terbawah janin
Kemajuan persalinan pada kala I
• Temuan berikut menunjukkan kemajuan yang cukup baik pada persalinan kala I:
o Kontraksi teratur yang progresif dengan peningkatan frekuensi dan durasi
o Kecepatan pembukaan serviks paling sedikit 1 cm per jam selama persalinan, fase aktif ( dilatasi serviks berlangsung atau ada disebelah kiri garis waspada)
o Serviks tanpak dipenuhi oleh bagian bawah janin
• Temuan berikur menunjukkan kemajuan yang kurang baik pada persalinan kala I
- Kontraksi yang tidak teratur dan tidak sering setelah fase laten
- ATAU kecepatan pembukaan serviks lebih lambat dari 1 cm per jam selama persalinan fase aktif (dilatasi serviks berada disebelah kanan garis waspada)
- ATAU serviks tidak dipenuhi oleh bagian bawah janin
Kemajuan pada kondisi janin
• Jika didapati denyut jantung janin tidak normal (kurang dari 100 atau lebih dari 180 denyut per menit) curigai adanya gawat janin
• Posisi atau presentasi selain oksiput anterior dengan verteks fleksi sempurna digolongkan kedalam malposisi dan malpresentasi
• Jika didapat kemajuan yang kurang baik atau adanya persalinan lama, tangani penyebab tersebut
Kemajuan pada kondisi ibu
Lakukan penilaian tanda-tanda kegawatan pada ibu
• Jika denyut nadi ibu meningkat, mungkin ini sedang dalam keadaan dehidrasi atau kesakitan. Pastikan hidrasi yang cukup melalui oral atau I.V dan berikan analgesia secukupnya
• Jika tekanan darah ibu menurun curigai adanya perdarahan
• Jika terdapat aseton didalam urine ibu, curigai masukan nutrisi yang kurang, segera berikan dektrose
2. Kala II atau kala pengeluaran
Dimulai dari pembukaan lengkap sampai lahirnya bayi
Diagnosis Kala II
Persalinan kala II ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan pembukaan sudah lengkap atau kepala janin sudah tampak di vulva dengan diameter 5-6 cm
Gejala utama
a. His semakin kuat, dengan interval 2 sampai 3 menit, dengan durasi 50 sampai 100 detik.
b. Menjelang akhir kala I ketuban pecah yang ditandai dengan pengeluaran cairan secara mendadak
c. Ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap diikuti keinginan mengejan, karena tertekannya fleksus frankenhouser
d. Kedua kekuatan, his dan mengejan lebih mendorong kepala bayi sehingga menjadi:
- Kepala membuka pintu
- Subocciput bertindak sebagai hipomoglion berturut-turut lahir ubun-ubun besar, dahi, hidung dan muka, dan kepala seluruhnya.
e. Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh putar paksi luar,yaitu penyesuaian kepala pada punggung
f. Setelah putar paksi luar berlangsung, maka persalinan bayi ditolong dengan jalan:
- Kepala dipegang pada os occiput dan dibawah dagu, di tarik curam ke bawah untuk melahirkan bahu depan, dan curam ke atas untuk melahirkan bahu belakang
- Setelah kedua bahu lahir, ketiak diikat untuk melahirkan sisa badan bayi
- Bayi lahir diikuti oleh sisa air ketuban
g. Lamanya kala II untuk primigravida 50 menit dan multigravida 30 menit.
Penanganan
o Memberikan dukkungan terus menerus kepada ibu dengan :
- Mendampingi ibu agar merasa nyaman
- Menawarkan minum, mengipasi, dan memijat ibu
o Menjaga kebersihan diri:
- Ibu tetap dijaga kebersihannya agar terhindar dari infeksi
- Jika ada darah, lendir atau cairan ketuban segera dibersihkan
o Mengipasi dan memasase untuk menambah kenyamanan bagi ibu
o Memberikan dukungan mental untuk mengurangi kecemasan atau ketakutan ibu dengan cara:
- Menjaga privasi ibu
- Mejelaskan tentang proses dan kemajuan persalinan
- Menjelaskan tentang prosedur yang akan dilakukan dan keterlibatan ibu
o Mengatur posisi ibu. Dalam membimbing mengedan dapat dipilih posisi berikut
- Menjongkok
- Menungging
- Tidur miring
- Setengan duduk
Posisi tegak ada kaitannya dengan berkurangnya rasa nyeri, mudah mengedan, kurangnya trauma vagina dan perineum dan infeksi
o Menjaga kandung kemih tetap kosong, ibu dianjurkan berkemih sesering mungkin
o Memberikan cukup minum: member tenaga, dan mencegah dehidrasi
Posisi ibu saat meneran
o Bantu ibu untuk memperoleh posisi yang paling nyaman baginya, setiap posisi memiliki keuntungannya masing-masing.
o Ibu dibimbing mengedan selama his, anjurkan kepada ibu untuk mengambil nafas. Mengedan tanpa diselingi bernafas, kemungkinan dapt menurunkan pH pada arteri umbilicus yang dapat menyebabkan denyut jantung tidak normal dan nilai Apgar rendah. Minta ibu bernafas setiap kali kontraksi ketika kepala akan lahir. Hal ini menjaga agar perineum meregang pelan dan mengontrol lahirnya kepala dan mencegah robekan
o Periksa DJJ pada saat kontraksi dan setelah setiap kontraksi untuk memastikan janin tidak mengalami bradikardi
Kemajuan persalinan dalam kala II
o Temuan berikut menunjukkan kemajuan yang cukup baik pada persalinan kala II
- Penurunan yang teratur dari janin dijalan lahir
- Dimulainya fase pengeluaran
o Temuan berikut menunjukkan kemajuan yang kurang baik pada persalinan tahap kedua
o Tidak turunnya janin dijalan lahir
o Gagalnya pengeluaran pada fase akhir
Kelahiran kepala bayi
o Mintalah ibu untuk mengedan atau memberikan sedikit dorongan saat kepala bayi lahir.
o Letakkan satu tangan kekepala bayi agar defleksi tidak terlalu cepat
o Menehan perineum dengan satu tangan lainnya jika diperlukan
o Mengusap muka bayi untuk meberisihkannya dari kotoran lendir atau darah.
o Periksa tali pusat
Kelahiran Bahu dan anggota Seluruhnya
o Biarkan kepala bayi berputar dengan sendirinya
o Tepatkan kedua tangan pada sisi kepala dan leher bayi
o Lakukan tarikan lembut kebawah untuk melahirkan bahu depan
o Lakukan tarikan lembut keatas untuk melahirkan bahu belakang
o Selipkan satu tangan ke bahu dan lengan bagian belakang bayi sambil menyangga kepala dan selipkan satu tangan lainnya ke punggung bayi untuk mengeluarkan tubuh bayu seluruhnya
o Letakkan bayi tersebut diatas perut ibunya
o Secara menyeluruh, keringkan bayi, bersihkan matanya, dan nilai pernafasan bayi

3. Kala III atau kala uri
Penatalaksanaan aktif pada kala III (pengeluaran aktif placenta) membantu menghindarkan terjadinya perdarahan pascapersalinan. Penatalaksanaan aktif kala III meliputi:
o Pemberian oksitosin dengan segera
o Pengendalian tarikan pada tali pusat
o Pemijatan uterus segera setelah placenta lahir
Observasi yang dilakukan
a. Tingkat kesadaran penderita
b. Pemeriksaan tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi dan pernafasan
c. Kontraksi uterus
d. Terjadinya perdarahan

Penanganan
- Memberikan oksitosin untuk merangsang uterus berkontraksi yang juga mempercepat pelepasan placenta
- Lakukan penegangan tali pusat terkendali atau PTT
- PTT dilakukan hanya selama uterus berkontraksi. Tangan pada uterus merasakan kontraksi, ibu juga dapat member tahu petugas ketika ia merasakan kontraksi. Ketika uterus sedang tidak berkontraksi, tangan petugas dapat tetap berada pada uteus tetapi bukan melakukan PTT. Ualangi langkah PTT pada setiap kontraksi sampai placenta terlepas
- Begitu placenta terasa lepas, keluarkan dengan menggerakkan tangan atau klem pada tali pusat mendekati placenta, keluarkan placenta dengan gerakan ke bawah dan ke atas sesuai dengan jalan lahir. Kedua tangan dapat emgangn placenta dan perlahan dapat memutar placenta searah jarum jam untuk mengeluarkan selaput ketuban
- Segera setelah placenta dan selaputnya dikeluarkan, masase fundus agar menimbulkan kontraksi. Hal ini dapat mengurangi pengeluaran darah dan mencegah perdarahan pascapersalinan. Jika uterus tidak berkontraksi kuat selama 10-15 detik atau jika perdarahan hebat terjadi, segera lakukan kompresi bimanual dalam.jika atonia uteri tidak teratasi dalam waktu 1-2 menit, ikuti protocol untuk perdarahan pascapersalinan.
- Jika menggunakan manajemen aktif placenta elum juga lahir dalam waktu 15 menit, berikan oksitosin 10 unit I.M. dosis kedua, dalam jarak waktu 15 menit dari pemberian oksitosin dosis pertama
- Periksa wanita tersebut secara seksama dan jahit semua robekan pada serviks atau vagina atau perbaiki episiotomy
Kekuatan yang mendorong janin dalam persalinan
Seperti yang diketahui otot rahim terdiri dari tiga lapis yang teranyam degan sempurna, yaitu lapisan otot longitudinal dibagian luar, lapisan otot sirkuler dibagian dalam, dan lapisan otot menyilang di antara keduanya. Dengan susunan demikian, pembuluh yang terdapat di antara otot rahim tertutup rapat saat terjadi kontraksi postpartum sehingga menghindari perdarahan.
Pada saat inpartu perlu dilakukan observasi yang seksama karena tertutupnya pembuluh darah mengurangi O2 ke peredaran darah retroplasenter, sehingga dapat menimbulkan asfiksia intrauterine. Dengan demikian pengawasan dan pemeriksaan denyut jantung janin segera setelah kontraksi rahim, terutama pada kala dua (pengusiran), sangat penting sehingga dengan cepat dapat diketahui terjadinya asfiksia janin. Kontraksi otot rahim bersifat otonom, artinya tidak dapat dikendalikan oleh parturien. Sedangkan serat saraf simpatis dan parasimpatis hanya bersifat koordinasi.
Beberapa sifat kontraksi rahim:
1. Amplitude
- Kekuatanhis dihitung dengan mmHg
- Cepat mencapai puncak kekuatan dan diikuti relaksasi yang tidak lengkap sehingga kekuatannya tidak mencapai 0 mmHg
- Seluruh kontraksi otot rahim mengalami retraksi (tidak kembali kepanjang semula)
2. Frekuensi
- Jumlah terjadinya his selama 10 menit
3. Durasi his
- Durasi his yang terjadi pada setiap saat
- Diukur dengan detik
4. Interval his
- Tenggang waktu antara dua his
5. Kekuatan his
- Perkalian antara amplitude dengan frekuensi yang ditetapkan dengan satuan Montevideo
Gambaran perjalanan persalinan secara klinis
Gambaran jalannya persalinan secara klinis dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Tanda persalinan sudah dekat
- Terjadi lightening
- Terjadi his permulaan (palsu)
b. Tanda persalinan
- Terjadi his persalinan
- Terjadi pengeluaran pembawa tanda
- Terjadi pengeluaran cairan
c. Pembagian waktu persalinan
- Kala I sampai pembukaan lengkap
- Kala II pengusiran janin
- Kala III pengeluaran uri
- Kala IV observasi dua jam
d. Pimpinan persalinan
- Sikap menghaadapi setiap pembagian waktu persalinan
e. Perawatan di ruang inap
- Konsep rawat gabung dan mobilitas dini

Prof. dr. abdul bari saifuddin, SpOG, MPH. buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Jakart: yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo,2002
Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba, SpOG : Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk pendidikan Bidan. Jakarta, ECG, 1998

Prof. Dr. Rustam mochtar, MPH : Sinopsis Obstetri. Jakarta, EGC, 1998

Leave a comment »

Fisiologi Laktasi


Pengertian
Adalah proses produksi, sekresi, dan pengeluaran ASI
Pengaruh Hormonal
Mulai dari bulan ketiga kehamilan, tubuh wanita memproduksi hormon yang menstimulasi munculnya ASI dalam sistem payudara
hormon yang berperan dalam proses laktasi:
1. Progesteron, berfungsi mempengaruhi pertumbuhan dan ukuran alveoli. Tingkat progesteron dan estrogen menurun sesaat setelah melahirkan. Hal ini menstimulasi produksi secara besar-besaran.
2. Estrogen, berfungsi menstimulasi sistem saluran ASI untuk membesar. Tingkat estrogen menurun saat melahirkan dan tetap rendah untuk beberapa bulan selama tetap menyusui. Sebaiknya ibu menyusui menghindari KB hormonal berbasis hormon estrogen, karena dapat mengurangi jumlah produksi ASI.
3. Follicle stimulating hormone (FSH)
4. Luteinizing hormone (LH)
5. Prolaktin, berperan dalam membesarnya alveoil dalam kehamilan.
6. Oksitosin, berfungsi mengencangkan otot halus dalam rahim pada saat melahirkan dan setelahnya, seperti halnya juga dalam orgasme. Selain itu, pasca melahirkan, oksitosin juga mengencangkan otot halus di sekitar alveoli untuk memeras ASI menuju saluran susu. Oksitosin berperan dalam proses turunnya susu let-down/ milk ejection reflex.
7. Human placental lactogen (HPL): Sejak bulan kedua kehamilan, plasenta mengeluarkan banyak HPL, yang berperan dalam pertumbuhan payudara, puting, dan areola sebelum melahirkan.
Pada bulan kelima dan keenam kehamilan, payudara siap memproduksi ASI. Namun, ASI bisa juga diproduksi tanpa kehamilan (induced lactation).

Proses Pembentukan Laktogen
Proses pembentukan laktogen melalui tahapan-tahapan berikut:
1. Laktogenesis I
Merupakan fase penambahan dan pembesaran lobulus-alveolus. Terjadi pada fase terakhir kehamilan. Pada fase ini, payudara memproduksi kolostrum, yaitu berupa cairan kental kekuningan dan tingkat progesteron tinggi sehingga mencegah produksi ASI. Pengeluaran kolustrum pada saat hamil atau sebelum bayi lahir, tidak menjadikan masalah medis. Hal ini juga bukan merupakan indikasi sedikit atau banyaknya produksi ASI.
2. Laktogenesis II
Pengeluaran plasenta saat melahirkan menyebabkan menurunnya kadar hormon progesteron, esterogen dan HPL. Akan tetapi kadar hormon prolaktin tetap tinggi. Hal ini menyebabkan produksi ASI besar-besaran.
Apabila payudara dirangsang, level prolaktin dalam darah meningkat, memuncak dalam periode 45 menit, dan kemudian kembali ke level sebelum rangsangan tiga jam kemudian. Keluarnya hormon prolaktin menstimulasi sel di dalam alveoli untuk memproduksi ASI, dan hormon ini juga keluar dalam ASI itu sendiri. Penelitian mengemukakan bahwa level prolaktin dalam susu lebih tinggi apabila produksi ASI lebih banyak, yaitu sekitar pukul 2 pagi hingga 6 pagi, namun level prolaktin rendah saat payudara terasa penuh.
Hormon lainnya, seperti insulin, tiroksin, dan kortisol, juga terdapat dalam proses ini, namun peran hormon tersebut belum diketahui. Penanda biokimiawi mengindikasikan bahwa proses laktogenesis II dimulai sekitar 30-40 jam setelah melahirkan, tetapi biasanya para ibu baru merasakan payudara penuh sekitar 50-73 jam (2-3 hari) setelah melahirkan. Artinya, memang produksi ASI sebenarnya tidak langsung keluar setelah melahirkan.
Kolostrum dikonsumsi bayi sebelum ASI sebenarnya. Kolostrum mengandung sel darah putih dan antibodi yang tinggi daripada ASI sebenarnya, khususnya tinggi dalam level immunoglobulin A (IgA), yang membantu melapisi usus bayi yang masih rentan dan mencegah kuman memasuki bayi. IgA ini juga mencegah alergi makanan. Dalam dua minggu pertama setelah melahirkan, kolostrum pelan pelan hilang dan tergantikan oleh ASI sebenarnya.
3. Laktogenesis III
Sistem kontrol hormon endokrin mengatur produksi ASI selama kehamilan dan beberapa hari pertama setelah melahirkan. Ketika produksi ASI mulai stabil, sistem kontrol autokrin dimulai. Pada tahap ini, apabila ASI banyak dikeluarkan, payudara akan memproduksi ASI banyak. Penelitian berkesimpulan bahwa apabila payudara dikosongkan secara menyeluruh juga akan meningkatkan taraf produksi ASI. Dengan demikian, produksi ASI sangat dipengaruhi seberapa sering dan seberapa baik bayi menghisap, dan juga seberapa sering payudara dikosongkan.
Pembentukan dan persiapan ASI
Persiapan dan pemberian ASI dilakukan bersamaan dengan kehamilan. Pada kehamilan, payudara semakin padat karena retensi air, lemak serta berkembangnya kelenjar-kelenjar payudara yang dirasakan tegang dan sakit.
Hormone prolaktin yang sangat penting dalam pembentukan dan pengeluaran ASI makin bertambah. Tetapi fungsinya belum mampu mengeluarkan ASI karena dihalangi oleh hormone estrogen, progesterone dan human placenta lactogen hormone. Oksitosin meningkat dari hipofisi posterior, tetapi juga belum berfungsi mengeluarkan ASI karena dihalangi hormone estrogen dan progesterone.
Bersama dengan besarnya kehamilan, perkembangan dan persiapan untuk memberikan ASI makin tampak. Payudara makin besar, putting susu makin menonjol, pembuluh darah makin tampak, dan areola mamae makin hitam.
Persiapan memperlancar pengeluaran ASI dilaksanakan dengan jalan:
1. Membersihkan puting susu dengan air atau minyak, sehingga epitel yang terlepas tidak menumpuk.
2. Putting susu ditarik-tarik setiap mandi, sehingga menonjol untuk memudahkan isapan bayi.
3. Bila putting susu bellum menonjol dapat memakai pompa susu atau dengan jalan operasi.
Setelah placenta lahir dengan menurunnya hormone estrogen, progesterone dan human placental lactogen hormone, maka prolaktin dapat berfungsi membentuk ASI dan mengeluarkannya kedalam alveoli bahkan sampai ductus kelenjar ASI. Isapan langsung pada putting susu ibu menyebabkan reflek yang dapat mengeluarkan aoksitosin dari hipofisis. Sehingga miopitel yang terdapat disekitar alveoli dan duktus kelenjar ASI berkontraksi dan mengeluarkan ASI kedalam sinus : let down reflek.
Menyusui setiap dua-tiga jam akan menjaga produksi ASI tetap tinggi. Untuk wanita pada umumnya, menyusui atau memerah ASI delapan kali dalam 24 jam akan menjaga produksi ASI tetap tinggi pada masa-masa awal menyusui, khususnya empat bulan pertama. Bukanlah hal yang aneh apabila bayi yang baru lahir menyusui lebih sering dari itu, karena rata-ratanya adalah 10-12 kali menyusui tiap 24 jam, atau bahkan 18 kali. Menyusui on-demand adalah menyusui kapanpun bayi meminta (artinya akan lebih banyak dari rata-rata) adalah cara terbaik untuk menjaga produksi ASI tetap tinggi dan bayi tetap kenyang. Tetapi perlu diingat, bahwa sebaiknya menyusui dengan durasi yang cukup lama setiap kalinya dan tidak terlalu sebentar, sehingga bayi menerima asupan foremilk dan hindmilk secara seimbang .
Reflek Turunnya susu

Keluarnya hormon oksitosin menstimulasi turunnya susu (milk ejection / let-down reflex). Oksitosin menstimulasi otot di sekitar payudara untuk memeras ASI keluar. Para ibu mendeskripsikan sensasi turunnya susu dengan berbeda-beda, beberapa merasakan geli di payudara dan ada juga yang merasakan sakit sedikit, tetapi ada juga yang tidak merasakan apa-apa. Refleks turunnya susu tidak selalu konsisten khususnya pada masa-masa awal. Tetapi refleks ini bisa juga distimulasi dengan hanya memikirkan tentang bayi, atau mendengar suara bayi, sehingga terjadi kebocoran. Sering pula terjadi, payudara yang tidak menyusui bayi mengeluarkan ASI pada saat bayi menghisap payudara yang satunya lagi. Lama kelamaan, biasanya setelah dua minggu, refleks turunnya susu menjadi lebih stabil.
Refleks turunnya susu ini penting dalam menjaga kestabilan produksi ASI, tetapi dapat terhalangi apabila ibu mengalami stres. Oleh karena itu sebaiknya ibu tidak mengalami stres.
Refleks turunnya susu yang kurang baik adalah akibat dari puting lecet, terpisah dari bayi, pembedahan payudara sebelum melahirkan, atau kerusakan jaringan payudara. Apabila ibu mengalami kesulitan menyusui akibat kurangnya refleks ini, dapat dibantu dengan pemijatan payudara, penghangatan payudara dengan mandi air hangat, atau menyusui dalam situasi yang tenang.
Keberadaan putting susu didalam mulut bayi mempunyai keuntungan tersendiri :
a. Rangsangan putting susu lebih mantab sehingga refleks pengeluaran ASI lebih sempurna.
b. Menghindari kemungkinan lecet pada puting susu.
c. Kepuasan bayi saat menghisap ASI lebih besar.
d. semprotan ASI lebih sempurna dan menghindari terlalu banyak udara yang masuk kedalam lambung bayi
untuk menyempurnakan pembentukan ASI maka kedua payudara harus diperlakukan sama untuk menghindari terjadinya stagnasi dan buntunya pembuluh kelenjar ASI serta selanjutnya menghindari kemungkinan infeki payudara.
Komposisi ASI
ASI bersifat khas untuk bayi karena sususan kimianya, mempunyai nilai biologis tertentu, dan mempunya substansia yang spesifik. Ketiga sifat itulah yang membedakan ASI dengan susu formula. Pengeluaran ASI tergantung dari umur kehamilan sehingga ASI yang keluar dari ibu dengan kelahiran premature akan berbeda dengan ibu yang bayinya cukup bulan
Pengeluaran ASI dapat dibedakan atas :
1. kolostrum
• berwarna kuning jernih dengan protein berkadar tinggi.
• Mengandung : immunoglobulin, lactoferin, ion-ion(Na,Ca,K,Zn,Fe), vitamin (A,E,K,dan D) lemak dan rendah laktosa.
• Pengeluaran kolostrum berlangsung sekitar 2-3 hari dan diikuti ASI yang mulai berwarna putih.
2. ASi transisi (antara)
• ASI antara, mulai berwarna putih bening dengan sususan yang disesuaikan dengan kebutuhan bayi, dan kemampuan mencerna usus bayi.
3. ASI sempurna
• Pengeluaran ASI penuh sesuai dengan perkembangan usus bayi, sehingga dapat menerima sususan ASI sempurna
Keuntungan dan kerugian pemberian ASI
keuntungan
1. Memberikan ASi sesuai dengan tugas seorang ibu, sehingga dapat meningkatkan martabat wanita sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
2. AsI telah disiapkan sejak mulai kehamilan sehingga sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang bayi
3. ASI mempunyai kelebihan dalam susunan kimia, komposisi biologis dan mempunyai substansia spesifik untuk bayi
4. ASI siap setiap saat untuk diberikan pada bayi dengan sterilits yang terjamin
5. ASI dapat disimpan selama 8 jam tanpa perubahan apapun, sedangkan susu botol hanya cukup 4 jam
6. Karena bersifat spesifik, maka pertumbuhan bayi baik dan terhindar dari beberapa penyakit tertentu.
7. Ibu yang siap meberikan ASI mempunyai keuntungan
a. Terjadi laktasi amenorea, dapat bertindak sebagai metode KB dalam waktu relative 3-4 biulan
b. Mempercepat terjadinya involusi uterus
c. Pemberian ASI mengurangi kejadian karsinoma mamae
d. Melalui pemberian ASI kasih sayang ibu terhadap bayi lebih baik sehingga menumbuhkan hubungan batin lebih sempurna.
8. Bayi mengukur sendiri rasa laparnya sehingga metode pemberian ASI dengan jalan call feeding
• kerugian
1. Waktu pemberian ASI tidak terjadwal, tergantung dari bayinya
2. Kesiapan ibu untuk memberikan ASI setiap saat
3. Terdapat kesullitan bagi ibu yang bekerja di luar rumah
Larangan untuk memberikan ASI
Sekalipun upaya untuk memberikan ASI digalakkan tetapi pada beberapa kasus pemberian ASI tidak dibenarkan.
Adapun fa or-faktornya, antara lain :
a. Faktor dari ibu
- Ibu dengan penyakit jantung yang berat, akan menambah bertanya penyakit ibu.
- Ibu dengan pre-eklampsia dan eklampsia, karena banyaknya obat-obatan yang telah diberikan, sehingga dapat mempengaruhi bayinya
- Penyakit infeksi berat pada payudara, sehingga memungkinkan menular pada bayinya.
- Karsinoma payudara mungkin dapat menimbulkan metastasis.
- Ibu dengan psikosis, dengan pertimbangan kesadaran ibu sulit diperkirakan sehingga dapat membahayakan bayi
- Ibu dengan infeksi virus
- Ibu dengan TBC atau lepra
b. Factor bayi
- Bayi dala keadaan kejang-kejang, yang dapat menimbulkan bahaya aspirasi ASI
- Bayi yang menderita sakit berat, dengan pertimbangan dokter bayi tidak dibenarkan untuk mendapatkan ASI
- Bayi dengan cacat bawaan yang tidak mungkin menelan (labioskisis, palatognatokisis, labiognatopalatokisis).
- Bayi yang tidak dapat menerima ASI, penyakit metabolise seperti alergi ASI
Keadaan patologis payudara
Pada rawat gabung diharapkan bahwa kemungkinan stagnasi ASI yang dapat menimbulkan infeksi dan abses dapat dihundari. Sekalipun demikian masih ada keadaan patologis payudara yang memerlukan konsultasi dokter sehingga tidak merugikan ibu dan bayinya. Keadaan patologis yang memerlukan konsultasi adalah:
- Infeksi payudara
- Terdapat akses yang memerlukan insisi
- Terdapat benjolan payudara yang membesar saat hamil dan menyusui
- ASI yang tercampur dengan darah

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.